Usai laga Inggris Argentina, menyempatkan pindah channel tv nonton berita pagi, beberapa berita menayangkan ada sekolah yang hanya mendapatkan murid baru hanya sedikit, ada yang cuma tiga orang, ada yang dua dan satu orang murid, bahkan ada yang tidak ada sama sekali, ini menjadi fenomena tersendiri di tahun ajaran baru.
Penyebabnya macam-macam, ada beberapa variabel yang beraneka ragam, ada yang karena lingkungan sekolah yang kurang penduduk, sekolah lebih dekat dengan pusat bisnis dan industri, ada yang lingkungan sekitar sekolah angka kelahiran anak menurun drastis, ada pula karena pilihan orang tua yang lebih memilih menyekolahkan anaknya di tempat yang mereka rasa lebih berkualitas, sekolah unggulan, lingkungan yang kondusif dan tenang untuk belajar, yang pendidikan agama dan karakter bisa terpenuhi, serta pelajaran tambahan seperti tahfidz, bahasa asing ada, dan lain sebagainya, meskipun itu biaya lebih mahal dan sedikit lebih jauh dari tempat domisilinya.
Saat ini terjadi pergeseran, kalau dulu sekolah negeri jadi incaran, sekarang malah sekolah swasta yg banyak di sasar, karena di swasta terutama SDIT, begitupula sekolah swasta untuk agama lain, jadi primadona karena menjanjikan mutu, bayangkan di daerah saya ini ada SDIT, tempat ponakan saya sekolah murid kelas satunya saja sampai beberapa kelas, dari kelas 1A sampai 1F, kabarnya muridnya sampai 300an lebih.
Kalau zaman saya dulu sekolah SD Negeri menjadi pilihan utama para orang tua, beberapa tetangga saya yang menjadi kawan bermain saya, orang tuanya memasukkan anaknya ke SD Negeri yang menjadi pilihan, yang inpres maupun yang teladan, kalau saya sendiri di pilihkan orang tua masuk di SD dekat rumah, SD swasta Muhammadiyah, meskipun awalnya saya juga sempat di tolak karena umur belum cukup enam tahun waktu itu, padahal Bapak saya kosong satunya Muhammadiyah di kabupaten kala itu, Bapak saya saat itu tidak mau menyalahgunakan jabatan dan wewenangnya, sebagai Ketum PD Muhammadiyah, tidak mau cawe-cawe intervensi, akhirnya memilih ambil formulir di SD 01 dekat tempat mengajarnya di SMP, Namun tiba-tiba berubah karena nenek saya ngotot untuk tetap di SD Muhammadiyah saja, karena pikirnya waktu saya TK yang jarak tempat mengajar Ibu Bapak saya dengan TK saya cuma berjarak satu tiang listrik saja, saya masih sering kelupaan di jemput. 🤣
Akhirnya yang maju Ibu saya, entah bagaimana negosiasinya Ibu saya, karena ibu saya yang urus, sehingga saya akhirnya bisa sekolah di SD Muhammadiyah, bahkan kabarnya dalam nego itu saya harus dua tahun di kelas satu, di kasi tinggal setahun biar umur bisa setara dengan siswa/i lain, meskipun pada akhirnya, mungkin guru di SD pada lupa, dan saya pun tidak pernah dibuat tinggal kelas, enam tahun tamat juga.
Untuk menyiasati kekurangan pendaftar siswa, sebaiknya perlu langkah-langkah, saya tidak tahu sekarang, apa masih ada SD Negeri yang pakai status unggulan?, kalau masih ada sebaiknya di hapus saja, sistem zonasi di buat fleksibel, jangan ada sekolah kelebihan murid di kelas, yang kelebihan bisa di opor di transfer ke sekolah lain biar ada pemerataan siswa.
SD Negeri juga di tingkatkan kualitas mutu pendidikan dan tunjangan gurunya, kelas di buat nyaman, tidak bikin gerah, bila perlu pakai AC, pakai proyektor, papan tulis digital seperti SD Swasta yang elit, SDIT, mata pelajaran dan ekstra kurikuler tambahan juga ada. Makanya saya lebih setuju dengan pengadaan fasilitas dan pembenahan sekolah di banding eMBG, sebab lebih kelihatan efeknya, begitupula sekolah rakyat, daripada bangun sekolah rakyat dari nol, anggaran pembangunan rawan di MarkUp dan di korupsi, mending anak-anak yang miskin anak yatim di sekolahkan saja di dekat rumahnya, bebaskan semua biaya, fasilitas dari sepatu, buku, seragam, semua di penuhi dan di tanggung pemerintah, terutama oleh dinas pendidikan dan sosial, serta yang utama orang tuanya harus terdata dan dapat bansos, biar anaknya bisa sarapan dan makan malam, anak-anak bisa menikmati bersekolah, orang tua juga nyaman cari nafkah dan bekerja.
Acchi
01:56 PM
