![]() |
| Capture Foto BPS |
Lagi ramai di media sosial dibahas tentang sensus ekonomi untuk tahun 2026 ini (SE2026), yang kabarnya akan berlangsung selama hampir tiga bulan mulai dari Juni hingga Agustus. Sensus ekonomi ini khusus untuk mendata sektor bisnis, pelaku usaha, pedagang, umkm, sampai afiliator dan pedagang online.
Sensus ekonomi ini dilakukan oleh badan statistik untuk pemetaan khusus sektor ekonomi, setiap persepuluh tahun, sama dengan sensus penduduk, cuma pendataan beda tahun kalau sensus ekonomi dilaksanakan di tahun berakhiran angka 6 seperti saat ini tahun 2026, sebelumnya tahun 2016, 2006, kalau sensus penduduk di angka 0, 2000, 2010, 2020 terakhir, kalau tidak salah adalagi sensus khusus pertanian & peternakan juga tahunnya beda lagi, pendataannya sepertinya kurang lebih sama yang membedakan cuma obyek pertanyaannya.
Banyak fenomena yang terkuak yang terlihat di media sosial, persoalan pendataan ini, banyak masyarakat yang baru merasakan di data seperti ini, ada masyarakat yang menolak, ada yang fine-fine saja, ada yang sampai menyangkut pautkan persoalan pajak, persoalan bantuan sosial, bahkan ada yang viral petugas sensus sampai di lempar keranjang ember, karena tuan rumah yang punya usaha warung kesal di tanya-tanya yang terlalu mendetail.
Sensus ini bukan hal baru, yang baru adalah sebagian orang-orangnya yang baru merasakan di sensus, terutama generasi-generasi zilenial, yang di mintai data yang di mintai jawaban dari pertanyaan yang kadang memang bikin risih, apalagi sampai menyerempet pada pertanyaan yang bersifat privat, seperti berapa penghasilan, omzet, punya harta apa saja, masak pakai gas ijo atau pink, sampai kondisi tempat usaha rumah di foto segala, dan lain sebagainya.
Saya teringat waktu mendampingi Ibu saya kala itu, saya masih SMA, ada petugas sensus yang datang mendata, memang pertanyaannya ada beberapa yang rada-rada aneh menurutku, dan yang paling saya ingat ditanyakan jarak WC atau Closed ke Septic tank berapa meter?. 😆
Sensus ini sebenarnya niatnya bagus, yang bikin ilfil masyarakat sampai bikin parno adalah takut kebocoran data, jangan sampai di salah gunakan pihak lain, dijadikan pinjol, judol, masyarakat juga bisa geram karena pikirannya bisa dijadikan obyek pajak baru dari usahanya.
Bahkan beberapa masyarakat saking menurunnya trust atau tingkat kepercayaan pada lembaga dan institusi negara, ada masyarakat sampai mempertanyakan hasil akhirnya akan seperti apa? apakah rawan di manipulasi apalagi sampai di bajak pemerintah demi kepentingan elektoralnya. Kekhawatiran masyarakat juga jangan sampai fakta di lapangan tidak sesuai yang terdata diatas kertas dan yang terinput di database, contoh kecilnya saja data garis kemiskinan rakyat Indonesia, sengaja dibuat standar income perkapitanya diturunkan biar tidak terlalu mencolok data jumlah orang miskin di Negeri ini, padahal bila berdasarkan data lembaga dunia, Indonesia, Rakyat miskinnya termasuk melonjak tajam, di tambah lagi kelas menengahnya banyak yang turun kelas.
Acchi
05:26 AM
