Assalamu Alaikum Selamat Datang Di Blog Kami
Selalu Siap Menerima Kritik Dan Saran Atas Tulisan Dan Konten Di Blog Sederhana Ini...

Friday, 4 September 2026

Gabut Ikutan Cek Desil


Semalam seusai nonton bola antara Indonesia U20 vs Laos U20 di kualifikasi Asean Cup, sambil scroll-scroll media sosial, banyak yang posting tentang desil dan cara mengeceknya, saya pun ikut gabut coba-coba cek juga, tapi sebelumnya saya coba tanya chatgpt dulu caranya, setelah itu saya praktekkan sesuai tutorial cara ceknya.

Akhirnya kelihatan seperti di foto terlampir, desilnya tidak jelas, hanya tertulis 6-10, rentan di angka itu BPS tidak bisa memberi kepastian saya masuk di mana di 6, di 7 di 8,9_kah atau di 10. 😅

Pikirku, apa karena kemarin waktu di sensus ketika di tanya apa di rumah punya tabung pink?, waktu di tanya itu, mau bohong takut dosa, karena nyatanya memang ada, akhirnya saya bilang tabung pink ada, tapi saat ini yang sedang tercolok regulatornya yang ijo melon, yang pink saya pakai kalau keadaan lagi urgent, kalau sudah capek keliling cari tabung melon di saat langka, terpaksa beli yang isi pink meskipun pakai dari uang yang pacce-pacce juga, dan tertawalah si tukang sensus itu. 😂

Kenapa sih pemerintah harus kelompokkan warga negara ini pakai desil-desil yang pendataannya masih acak kadut begini, kemarin ada berita tukang becak di kategorikan desil 10, sampai akhirnya anaknya tidak lagi mendapatkan bantuan UKT/SPP di tempat kuliahnya, ada juga warga miskin yang terpaksa di hapus sembakonya karena status desil yang berubah naik angkanya, bahkan semalam juga yang paling absurd saya lihat anak mentri keuangan Purbaya masuk kategori desil 7, padahal dia termasuk kaya raya.

Dan yang paling bikin rempong lagi soal desil ini, kabarnya desil diatas 5 tak bisa lagi beli tabung ijo, tak bisa beli lagi BBM partalite atau solar subsidi, dan kedepan mungkin masih banyak lagi pembatasan-pembatasan gara-gara persoalan desil ini.

Beginilah Negara, kekayaan alam melimpah tapi hanya di kuasai segelintir orang, rakyat di paksa di sekat-sekat, lalu di pajaki macam-macam, dan lebih apes di pimpin kakek-kakek yang kalkulasi dan hitungan dasarnya saja masih sering ngawur, buat kopdes sampai ribuan tapi efeknya tak berpengaruh pada kesejahteraan rakyat, belum lagi pasangannya, jangankan kualitasnya yang masih jadi pertanyaan, ijazahnya pun masih di pertanyakan dan diragukan.
🤣😆😁

Acchi
02:06 PM