![]() |
| Capture foto Medsos |
Beberapa postingan menyerukan boikot acara Carnival Rans gawean Raffi Ahmad di Sleman Jogja, dan terbukti berefek himbauan itu, pemilik lapak banyak yang mundur, Band TipeX juga tak mau hadir, pokoknya dan lain-lain deh.
Ini karena Raffi Ahmad dan Willy Salim, kemarin sehari setelah hari sumpah pemuda bersama polisi dan Mahasiswa gadungan yang berbayar (Mahasewa) bikin aksi tandingan juga di bundaran HI, sampai akhirnya karena aksi ini kelihatan lucu dan aroma settingannya terlalu norak, polisi pun malu sendiri sampai video yang dibuatnya sendiri di takedown sendiri pula, polisi dan pesertanya sampai sibuk klarifikasi. 🤣
Perlu diketahui di mana sehari sebelumnya mahasiswa yang asli dan ormas kepemudaan melakukan aksi juga di sana dengan berbagai macam tuntutan pada pemerintah dengan memakai simbol tiga jari, aksinya ramai, tapi jangan cari liputannya di tv, karena tv sudah di wanti-wanti di intimidasi oleh rezim, meskipun ada satu tv, Kompas tv yang sempat menyiarkan aksi mahasiswa di Jakarta maupun di Daerah, itupun hanya beberapa saat pakai Breaking News.
Karena efek itu berimbaslah ke acara Raffi Ahmad di Jogja, dan Alhamdulillah semoga ini menjadi tren baru, budaya baru, kepekaan sosial atas isu-isu kemasyarakatan tidak boleh lagi dibuat guyonan, culture baru artis bisa di boikot, event bisa di buat sepi, Prabowo bisa di cuekin kalau ketemu di stasiun kereta atau di mana pun.
Saat ini suara-suara tidak lagi harus terus di bungkam, mahasiswa yang mengkritisi kebijakan pemerintah yang ngawur, selama kritiknya relevan dengan kondisi dan situasi bangsa harus disokong didukung, bahkan kemarin beberapa artis yang nalarnya benar sampai ikut turun kejalan meskipun cuma sebatas membawa logistik, komsumsi sampai ambulance buat adik-adik mahasiswa yang membutuhkan perawatan.
Cara-cara kotor harus ditinggalkan, warisan Jokowi yang memelihara buzzerp, memelihara ternaknya sudah tak relevan lagi, bayar preman sewaan, termul senior dijadikan komisaris, mobilisasi aparat, ancaman pasal dan pelaporan, rekayasa situasi, cipta kondisi, itu semua sudah tidak relevan dalam dunia demokrasi.
Satu lagi soal kasus lain yang juga cukup menyita perhatian masyarakat, penyerbuan polisi kedalam ponpes putri di Sukoharjo saat dini hari, saat Santriwati dan ustadzahnya tertidur, ini termasuk perbuatan biadab dan tolol, prosedur asal-asalan, perencanaan tidak matang, intelnya bego tidak berfungsi, hanya karena gara-gara membela kasus perbabian, pesantren yang belum tentu pelakunya malah di grebek lebih dahsyat gaungnya daripada grebok OPM di Papua.
Cara-cara busuk seperti ini, warisan Tit0 Sigitt, pakai skenario teroris-terorisan, sudah tidak laku lagi, nalar rakyat sudah terupgrade tidak gampang lagi terpedaya, tidak gampang lagi dikibulin dan diakali oleh situasi yang bisa direkayasa, skenario desain dan settingan murahan seperti itu, semoga Kapolri baru terus berbenah, percuma jago khutbah jumat, percuma ganti slogan Promoter & Presisi ke slogan baru Polisi bersama masyarakat, kalau sistemnya tidak dibenahi dan berkeadilan, masih tebang pilih dan aparatnya yang tidak mau berubah.
Acchi
12:26 PM
