![]() |
| Foto semua dari medsos |
Waktu SD kawan saya Si Baso punya bakat menggambar, kalau dia lagi sedang gabut, sementara Pak Akib guru kelasku rehat mengajar sejenak untuk menghabiskan setengah atau sebatang rokok di luar kelas, Si Baso kadang dia ambil kertas dari pertengahan buku tulisku untuk di jadikan kanvas, dengan cekatan dia memainkan pensil atau pulpen, yang sering di gambar pahlawan yang tertempel di dinding kelas mulai dari Sultan Hasanuddin, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Pattimura, sampai Imam Bonjol dan Pangeran Diponegoro.
Namun yang paling realistis menurutku yang kemiripannya hampir sempurna ketika dia menggambar Pangeran Diponegoro, dan memang ini gambar andalannya yang paling sering di lukis di atas kertas, dengan pose khas Pangeran Diponegoro bersurban putih menyamping dengan keris di pinggang berbalut selendang.
Ibu sayalah yang pertama memberitahu dan memperlihatkan saya, makam sang sultan Diponegoro, ketika saya naik pete-pete (angkot) dari pasar sentral menuju sekolah saya dulu, sampai akhirnya hampir tiap saat saya melewati, jalur itu, bahkan pernah sekali melihat langsung ketika pagarnya terbuka, tapi tidak bisa masuk karena sedang di bersihkan penjaganya.
Ternyata di umur segini saya baru tahu ternyata kakek atau buyut Pra6owo punya andil besar, mendzalimi, menjebak, menangkap, lalu mengkriminalisasi Pangeran Diponegoro selepas Idul Fitri kala itu, dan mengirim dia ke penjara benteng Rotterdam Makassar, sampai sang pangeran terkungkungkung di balik tembok benteng penjara dan meninggal dan di makamkan di Makassar.
Media sosial saat ini lagi ramai mengulik dan membahas siapa "Londo Ireng" sebenarnya, dan siapa keturunannya, terkadang ada orang tunjuk hidung orang lain karena lagi sedang kesal, padahal dia sendiri punya garis keturunan yang dia ucapkan sendiri, Wowok ini karena sudah tua, ambisi sudah terpenuhi setelah berusaha di tempuh berkali-kali, tapi hasrat masih menggebu-gebu, makanya sering blunder, omongan tidak terkontrol kalau ketemu mic, ucapan mulai tidak sinkron dengan otak, 10+6 jadi 17, 100x5 jadi 1000, apalagi bisa jadi tambah tantrum ketika dia tahu survey yang di rilis Tempo kemarin bahwa survey terbaru tingkat elektabilitas dirinya anjlok di mata rakyat sampai 20% lebih.
😅😁🤣😂😆
Acchi
08:36 PM
