Semalam hampir pukul dua dini hari saya di telpon sama Phai, tapi baru saya lihat setelah pukul sebelas pagi, hp saya juga baru aktif, setelah saya baru melakukan rutinitas akhir pekan, bersih-bersih rumah dan mengurus hewan peliharaan, Phai mau mengabarkan kabar duka atas meninggalnya Ibundanya, Alhamdulillah saya sudah telpon balik dan ikut berbelasungkawa sedalam-dalamnya, saya juga minta izin tidak bisa ikut melayat, menshalati dan mengantarnya sampai liang kubur, selain karena faktor lagi didaerah dan terlambat melihat postingan di grup WA.
Banyak kenangan yang masih terekam tentang Ibu Ruqaiyah, baik saat masih mondok maupun setelahnya, ada beberapa yang masih tertanam di memori otakku, Ibu Ruqaiyah bersama istri-istri ustadz yang lain seperti Ibu Khaeriyah, istrinya ust Arsyad, istrinya Ustadz Hayatuddin, Istrinya Pak Hafid, Pak Firman, dll, mendobrak manajemen dapur santri/santriyah mengubah pakem yang kaku, meningkatkan kualitas dan rasa menu yang disajikan buat santri/yah, yang biasanya santri hanya dapat ikan kering kecap, telur masak utuh tanpa bumbu, ayam kecap standar, tempe dua potong dibaluri lombok botol, sayur kangkung bening, Ibu-ibu komunitas Bayangkari versi Gombara ini memberikan versi yang beda, semenjak itu santri/yah bisa makan tempe orek ada kacang dan ikan terinya, telur dibumbui, daging dibuat Coto, terkadang tappalada, ayamnya dimasak pallu kari, terkadang ayam disuir tidak lagi monoton seperti sebelumnya, begitupula dengan sayur mayurnya banyak variasi, meskipun cuma daun singkong tapi dibuat lebih berasa dan bersantan karena dibuat sayur tuttu. Hari Jumat bersih terkadang kita diberi sarapan bubur kacang ijo atau bubur ketan hitam, pokoknya mantaplah, perubahan lebih terasa di sajian perdapuran.
Saya juga masih mengenang Ibu Ruqaiyah pernah mentraktir saya sampai dua kali bersama kawan yang lain Si Tasrin Si Udin Doel, Si Syahrir dan tentunya bersama Phai juga, makan bakso pangsit di Jalan Dakota samping bandara, karena sorenya habis bantu-bantu angkat berapa karung beras.
Pernah juga kami di mintai tolong untuk mengecet ruang kelas tempat mengajarnya di pannampu karena mau di kaligrafi sama Si Wawan Bundu.
Saat kami kunjungan Baksos Basijar di Sinjai Ibu Ruqaiyah juga punya andil dan membersamai kami.
Saya juga pernah di ajak ke Sinjai dan Bone kurang lebih hampir dua pekan, Bersama ustadz Anwar untuk bantu-bantu Kak Udi Kak Ridwan jadi tim sukses adiknya Ibu Rugaiyah yang maju jadi anggota dewan.
Dan kenangan terakhir bersama beliau saat, memasakkan Phai bersama saya bekal saat mau ke Mamuju waktu itu. Dan tentu masih ada beberapa kenangan lain yang saya sudah lupa-lupa ingat.
Selamat jalan Ibu, usai sudah pengabdian panjang_Mu bahkan sampai di hari-hari terakhir, disaat sakit, tubuh lemah masih terus berkontribusi buat pondok tercinta, semoga amal bakti_Mu diterima dan khilaf_Mu diampuni oleh Allah SWT. Buat Kak Udhi, Kak Chicank, Phai, Memet, Iwan, Afid, Mina, dan dua Adik perempuannya Phai yang saya lupa namanya, istrinya Kak Ridwan, semoga diberi ketabahan, dan mengikhlaskan atas kepergian ibundanya. 🤲🥹 Allahummagfirlaha warhamha wa_afiha wa’fuanha, Aamiin. 🤲🥺
Acchi
12:06 PM
