Saya masih biasa ngopi dengan kopi yang seperti saya pegang di foto, meskipun saat ini tidak sesering dulu lagi, kopi ini rasanya konsisten sejak dari dulu makanya saya suka, pakai gula seuprit satu sendok kecil, atau pakai kental manis 10gram, sudah maknyus rasanya, kalau toples gula lagi kosong, terpaksa di seduh tanpa gula jadinya koptagul, biar seirama dengan keadaan yang ada-ada saja pahit-pahitnya.
Kopi diatas mengikuti harga inflasi tergerus oleh moneter, saya masih merasakan harganya 100 rupiah perbungkus, kemudian naik 250/2 bungkus, waktu zaman Corona sudah 1000/3 bungkus, pasca covid sudah jadi 500 perbungkus, dan hari ini sudah 10.000 ribu satu renceng, artinya 1000 perbungkus.
Kopinya bisa saja kopi lokal, Arabika atau robusta yang di mix. tapi kemasannya, bahan bakunya import, alat roastingnya di pabrik bisa jadi import, belum lagi cost biaya distribusi dan lain-lain yang mengikuti mekanisme pasar, seperti harga BBM, dan biaya tak terduga lainnya.
Contoh diatas baru satu sektor, belum lagi bahan pangan lain yang juga pasti akan sangat berpengaruh, yang paling mendasar saja, gandum yang jadi terigu, bahan baku tahu tempe itu kedelai, kebanyakan import, dan pastinya dibayar pakai Dollar, naik 100 perak saja perdollar sudah sangat berpengaruh.
Lalu kemarin Wwok dengan lantang berkata orang desa tidak pakai dollar, iya benar orang desa tidak pakai dollar, tapi efek naiknya nilai kurs itu mempengaruhi kebutuhan dasar sampai harga pupuk para petani di desa juga terdampak signifikan.
Orang seperti Wwok, pejabat, menteri, dan oligarkhi itu menikmati betul kenaikan dollar karena bisnis eksport sawit, batubara, nikel, kayu hasil jarahan deforestasi pembalakan hutan, dll, dapat cuan lebih, bahkan dari selisihnya saja sudah bisa biayai touring kampanye atau healing liburan berkali-kali keluar negeri.
Sementara eksport dan import negeri kita ketimpangannya sangat jauh, kebutuhan import masih lebih besar dan mendominasi terutama import kebutuhan dasar, daripada barang yang di eksport keluar negeri, yang di eksport pun itu kebanyakan barang dan hasil bisnis yang pemiliknya para taipan yang nilai pajak masuk ke Negara hanya seuprit itupun sudah di nego dan didiskon, makanya Negara masih terus mengandalkan pendapatan dari sektor pajak, pendapatan yang didapat dari peras keringat rakyat, pendapatan dari jual kuota internet yang mahal. Sementara BUMN-BUMN yang harusnya berkontribusi besar untuk pendapatan Negara justru gaungnya dan kedengarannya lebih besar ruginya daripada labanya, Sekelas Bulog pun bisa rugi, maskapai rugi, perusahaan listrik rugi, perusahaan minyak rugi padahal tidak ada pesaing alias dimonopoli, buat IKN tak berguna tak jadi ibukota, kereta cepat bikin kolaps keuangan perusahaan kereta, yang berimbas pada keuangan kereta standar.
Pemerintah harus mengkalkulasi ulang ekonomi, duit negara terutama yang dari pinjaman luar negeri dibuat seefektif dan seefisien mungkin, terutama peruntukan buat proyek-proyek produktif yang efeknya bisa berkesinambungan dan jangka panjang, lebih baik buat, benahi, permulus jalan desa ke kota biar arus barang dari desa ke kota bisa lebih cepat sampai ke pasar ke pelabuhan, daripada bangun kopdes yang harus bersaing lagi dengan warung kelontong warga, dan retail swasta, lebih baik buat jembatan, benahi sekolah, seragam, buku, fasilitas sekolah, daripada memaksakan memberi makan seluruh anak sekolah seantero negeri, yang ujungnya banyak yang keracunan dan makanan yang mubazzir karena terbuang, MBG jadikan skala prioritas saja, untuk siswa tak mampu, kurang gizi, stunting, daerah terpencil, terluar.
Wwok harus melihat kebelakang terutama twit-twit lamanya di Twitter yang jejak digitalnya masih banyak tersimpan, kenaikan dollar itu bukti negara salah urus, dan hari ini terbukti benar, apalagi Wwok sudah menyimpan keponakan sendiri jadi pejabat teras B1, yang katanya tak paham soal moneter tapi dipaksakan untuk mengurusi kebijakan moneter lewat jalur nepotisme, akhirnya benar-benar ambyar, ciloko 12 kata teman Jawa saya. 😂😅😆🤣😁
Acchi
01:06 PM
