Kemarin pukul dua siang, ban motor depanku bocor, padahal dua hari sebelumnya ban belakangnya baru sudah ditambal karena bocor juga, gumamku dalam hati "gini amat sih ujian Yaa Allah", namun bukan persoalan apes yang kualami karena ban motor muka belakang yang bocor secara runut, yang mau saya cerita disini.
Kemarin waktu lagi tambal ban di bengkel tambal ban, ada anak muda minta lem sama pemilik bengkel, awalnya saya kira anggota bengkel yang mau kerja ban_ku, karena dengan sigap membantu standar dua motorku, setelah itu dia pergi mojok, mengeluarkan lem dari sakunya didalam plastik bening yang diminta tadi, kemudian dia hisap, dia berkata inilah oksigenku, sambil ketawa, tersenyum padaku, dan tersenyum manis pula pada bapak yang satu yang juga sedang menjadi customernya bengkel, sama seperti saya, kami pun hanya tersenyum kecut melihat aksinya. Saya sendiri pasrah menerima berhadapan dengan keadaan seperti itu, tak punya keberanian menegur, karena pikirku orang seperti itu pasti nyalinya lebih besar akalnya sudah mengawang, dunianya berasa sempit, dan dialah merasa paling jago, kepercayaan diri sudah diatas rata-rata, meskipun kelihatannya anak itu sombere, full senyum dan ketawa cengengesan tidak putus, mungkin karena reaksi lem yang dihirup sudah mulai bekerja.
Saat dia menghisap lem, dia menikmati dunianya sendiri, ketika menghirup lem kuning dalam kaleng tersebut, yang harusnya fungsinya jadi perekat, malah dihirup dalam-dalam, tarikan nafasnya begitu kencang, ngomongnya masih terarah, masih nyambung, belum begitu ngelantur, kami ibarat dijadikan penonton di teater melihat aksi solonya, pemilik bengkel hanya bisa menggerutu, omongan nyindir nan pedas terucap beberapa kali, terlihat dari gesturnya dia kesal juga, tapi karena mungkin itu kawannya atau kerabatnya, akhirnya dia kelihatan pasrah juga.
Saat ban motorku masih diutak-atik, masih dicari titik bocornya oleh pemilik bengkel, datanglah kawannya memanggilnya, dan diapun pergi entah kemana, mungkin dia cuma pindah lokasi ke yang lebih sunyi, ke yang lebih bisa menghayati bersama khayalannya, karena bisa jadi kawannya tadi adalah tandemnya.
Ini bukan kali pertama saya mendapati orang atau anak yang menghisap lem fox, waktu di Makassar paling sering mendapati, anak SMP hisap lem dibawah jembatan kanal, diujung gang buntu, terkadang mereka jadi tukang parkir hanya untuk beli lem, bahkan ada setelah menghisap lem kita biasa lihat diberita, dia melakukan aksi kriminal, jadi begal, jadi tukang palak, bertindak anarkis, ikut perang-perang, tawuran, busur-busur orang yang lewat dengan target random.
Ini fenomena yang cukup miris, terjerembab pada masalah tapi memilih jalan keluar yang keliru, hisap lem, narkoba, tramadol, nyeruput Komix sampai bersachet-sachet, padahal itu semua hanya menenangkan sesaat.
Terkadang mereka-mereka itu perlu diperhatikan, diwadahi, didengar keluh kesahnya, tidak dikucilkan, perhatian keluarga yang kurang terkadang punya andil menjerumuskan, kepedulian masyarakat juga perlu, terutama dari tokoh masyarakat, pemuka agama, konseling yang bersifat religiutas, mereka perlu figur yang bisa jadi panutan, yang mengarahkan kejalan yang lurus, dan negara harus hadir memberi problem solve, termasuk lapangan kerja dan tempat berkegiatan yang menghasilkan, agar demi terawatnya generasi.
Semua orang punya masalahnya masing-masing, tapi kepekaan sosial juga tak boleh hilang, jalani hidup secara sederhana, apa adanya, jangan sampai berbuat kriminal, itu sebenarnya sudah lebih dari cukup.
Apalagi hari-hari ini cobaan terasa makin bertambah berat semenjak Iran Amerika Israel berperang, satu bumi jadi repot, satu dunia kena imbas, sampai penjual bensin botolan jual partalite 15 ribu, padahal pemerintah belum naikkan harga, dan naasnya harga komoditi banyak yang ikut naik, dan kalau sudah harga naik, terkadang sudah lupa turunnya. Katte Jojamaki napakamma keadaan.
😅🤣😂😆
Acchi
00:16 AM

