Ancaman banjir masih terus menghantui masyarakat Aceh & Sumatera, kini Kalimantan pun sudah terendam juga.
Drama-drama persoalan musibah juga makin melebar kemana-mana, banjir yang hanya persoalan air, persoalan lumpur dan persoalan kayu gelondongan.
Tapi cerita dibaliknya juga ikut bertumbuh, dikala masyarakat sudah berproses untuk pulih, mulai move on, dan belajar menerima kepasrahan.
Justru ancaman intimidasi dan teror juga turut mengikuti, bagi yang berteriak tentang kebenaran, bagi yang mengungkap fakta, bagi yang berisik tentang deforestasi, pembalakan, dan musibah. Aktifis & relawan diteror, media diintimidasi, influencer diancam, rumahnya dikirimin macam-macam, ayam mati, dilempar telur, dilempar bom molotov, dikirimin surat kaleng sebagai ancaman, kendaraan dirusak.
Berarti ini memang bukan banjir biasa, karena fakta memang menguak bahwa hutan rusak, pohon dicuri, rumah ladang sawah warga hilang, nyawa sanak saudara mereka sudah seribu lebih yang jadi korban, penanganan lamban, desa kampung terisolir, ini sangat mengerikan tapi sampai saat ini tak ada status bencana nasional.
Padahal kemampuan pemerintah terbatas, gengsi menerima uluran tangan dari luar negeri, sehingga lamban terasa bagi warga, lelet terasa bagi influencer, makanya mereka speak_up, kritik, dan berisik, biar ada yang dengar, bahwa bantuan tidak merata, penyintas mulai diserang penyakit, dan problem lainnya.
Sementara persoalan baut dua tiga biji yang hilang di jembatan, serasa lebih berharga, padahal mereka sendiri yang pasang, mereka yang jaga, mereka yang atur kendaraan, sampai jenderal bintang empatnya geram saat konfrensi pers.
Dan anehnya yang jelas-jelas yang rusak didepan mata, penyebab longsor, penyebab rumah tersapu bah, karena hutan dibabat, gunung digerus rata, pohon dijarah, satwa liar dijerat diburu bahkan dianggap hama.
Harusnya kalian tak anti kritik, belajar mendengar, dan harus punya kepekaan, bahwa kenyataan memang itu pahit, bukan malah dengan pakai cara membungkam.
Acchi
09:26 PM
